Berkembangnya situs jejaring sosial menghasilkan satu kebiasaan baru : update status.. hehehe.. “whats on your mind?” yang tertulis disana. Namun pada kenyataannya, status update selain untuk mengeluarkan isi pikiran ternyata dijadikan pula ajang curhat, sarana promosi, menyatakan cinta, memutuskan pacar, memuji atau memaki orang, atau untuk sekedar membuktikan eksistensi diri.
Seorang teman sempat menuangkan kemirisannya ketika begitu banyak doa yang tercurah dalam status. Seakan-akan, Tuhan akan lebih mengetahui dan akan mengabulkan doa kita jika dituangkan lewat status facebook. Emang Tuhan punya account facebook, dan emang kita sudah add friend dengan Nya ? begitu katanya. Saya sempat garuk-garuk kepala. Tapi kemudian saya comment kemirisannya itu. Toch, Tuhan Maha Tahu, Maha Mendengar, Maha Melihat. Ketika doa hambanya diuntai disela ibadah hambaNya, Dia mengetahui. Ketika doa dibisikkan lirih hambaNya, Dia juga mendengar. Dan ketika hambanya menulis doanya dalam update status, Tuhan juga Melihatnya. Tak perlu ia buka account atau add friend oleh kita.. wkwkwkwk.. Mungkin dengan demikian, kita berharap banyak orang yang membaca doa kita, sekaligus mengamininya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Ada lagi. Ini tentang kebiasaan saya dan suami. Suami saya tahu bahwa istrinya tak bisa lepas dari gadget untuk terus online. Dia tahu istrinya juga demen ngintip status temannya. Sehingga saat dia keluar kota, hampir tiap jam dia update status dengan merinci lokasi tempat ia berada. Hehehe.. biar istrinya tahu keberadaannya saat itu. So, tak perlu sms apalagi telponan. Keberadaan dan keadaan suami terpantau via update statusnya..xixixixi..
Ngomong soal pantau memantau. Kadang suka iseng juga memantau isi hati orang via statusnya. Jika dulu seseorang dikenali karena penampilannya, sekarang kita kenali dari status-statusnya. Lucu, kadang ada pula mahasiswa yang ngeluarin uneg-uneg soal kuliahnya, padahal ia juga ‘berteman’ dengan dosen ybs. Mungkin emang sengaja ya, biar dosennya tahu… Beberapa mahasiswa bimbingan saya kadang curhat tentang penelitiannya via status. Lumayan, pada akhirnya jadi bisa dijadikan ajang diskusi online.
Pantau memantau lainnya. Alhamdulillah, kadang saya dan suami tertolong dengan adanya status teman-teman yang melaporkan kondisi lalulintas secara up to date. Jadi tahu, mana daerah yang macet, mana tidak. Jadi bisa menentukan, pergi lewat mana. Atau kadang nanya alternatif via status juga. Nunggu comment dari teman..hahahaha.. Dan beberapa hari lalu, saya merasakan lagi manfaat memantau status teman. Seorang mahasiswa saya mengupdate statusnya. Isinya memberitahu bahwa komplek tempat tinggal saya siaga banjir. Wkwkwkwk.. Saya yang dalam perjalanan pulang langsung up to date cari tahu. Beberapa teman langsung comment memberi tahu daerah Gede Bage banjir besar dan macet ga kepalang. Saya yang pada awalnya mau lewat situ, akhirnya memilih jalan alternatif lain. Setidaknya, meski memutar, toh lebih aman lewat jalan lain. Gak mau lagi saya terjebak dalam banjir seperti beberapa waktu lalu (ketika saya memberanikan diri melintasinya, dan nyaris masuk gorong-gorong..hiks..). Walhasil, saya bisa sampai tanpa macet berarti, meski memang pada akhirnya harus melintas banjir di jalan utama kompleks, tapi setidaknya, dijemput oleh suami, jadi merasa aman (cieyee…)
Yah, itu baru beberapa selukbeluk status update. Membuktikan, status update biar terus up to date.
Tampilkan postingan dengan label it's heart and mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label it's heart and mind. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 April 2011
Sabtu, 29 Januari 2011
Don’t judge a book by its cover (ketika status seseorang dilihat dari penampilannya..)
Sore itu, dalam rangka mencari furniture yang minimalis, modis dan fungsional, saya dan suami mampir di sebuah toko furniture kecil di pinggir kota (dengan pertimbangan dekat dari rumah). Turun dari motor, saya langsung clingak-clinguk liat barang. Dari mejanya, pemilik toko bertanya, “Cari apa, bu ?”. Meja makan, Pak.” jawab saya. Pemilik toko tersebut kemudian berdiri dan menjangkau album2 katalog produknya. “Mau yang kau atau kaca, bu ?” tanyanya sejurus kemudian. “Yang kayu”, jawab saya pendek. Kemudian dia menyodorkan satu gambar dari katalognya, “Yang ini bu, yang paling laku”. Saya mengeryit. Meja yang sangat sederhana, persegi dengan kaki yang terlihat tak begitu kokoh dan kursi yang sangat-sangat biasa, jauh dari keinginan saya. “Hmm, ada model yang lain gak, pak ?” tanya saya. Pemilik toko tersebut tak bergeming, tetap menyodorkan katalognya. “Yang ini bu, yang paling murah..”, jawabnya. Saya tetap mencari model lain dengan membuka2 katalog lain. “Saya gak suka modelnya, dan ragu sama barangnya (kokoh/tidaknya)”. “Ini paling murah, bu, paling laku pula..”, pemilik toko menekankan harga murah barang yang ia sodorkan. Saya makin mengeryit, “Ga ada model lain, pak ?” tanya saya. “Ada sih, bu, tapi mahal..di atas tiga jutaan” jawab pemilik toko itu tanpa memperlihatkan modelnya. Deg, mendengar jawaban si pemilik toko, saya langsung bertanya2..”Kenapa sih si pemilik toko keukeuh menawarkan barang yang paling murah? Seakan2 saya tak mampu membeli barang yang harganya lebih dari itu…” Tanpa terlalu banyak bertanya lagi, saya meninggalkan toko dengan sedikit dongkol.
Ketika saya bercerita pada seorang sahabat, ia tersenyum. “Mengingatkan saya pada ibu2 yang seangkot dengan saya” katanya. Ceritanya, ibu2 tersebut penampilannya memang sangat sederhana, sama sekali tidak memperlihatkan orang berada. Ibu tersebut bermaksud membeli gorden di suatu toko. Dengan penampilan seadanya, bersendaljepit, si ibu masuk ke toko tersebut. Sayangnya, pemilik toko meremehkannya. Ketika ia memilih gorden bagus, pemilik toko berkilah, “Yang itu mahal, bu” Padahal, ibu tersebut mampu untuk membeli. Tapi ia batal membeli karena perlakuan pemilik toko yang meremehkannya, menganggap ia orang miskin yang tak mampu dan tak layak untuk mendapatkan barang bagus yang mahal itu.
Lucu, seharusnya sebagai pedagang, tak bolehlah kita memilah2 customer apalagi kita menilainya hanya dari penampilan saja. Bisa2 justru customer yang sebenarnya berpotensi malah kabur karena tersinggung. Mungkin sudah gayanya si ibu tadi dengan pakaian sederhananya. Atau seperti saya yang lalai tidak mengganti baju yang lengannya sedikit robek karena tersangkut saat mau pergi. Tapi itu kan tidak bisa dijadikan patokan status dan kemampuan kami untuk berbelanja…
Tentang menilai orang dari penampilannya, mengingatkan saya pada cerita ibu bertahun lampau. Kami memang keluarga sederhana. Penampilan ibu juga sederhana. Tapi orangtua saya punya visi yang baik tentang anaknya. Sesusah apapun, pendidikan anak nomor satu. Saat itu, tahun 80an, ibu membawa saya yang masih kecil menengok kakak yang sedang kuliah di Bandung (kami tinggal di kota kecil, luar Bandung). Sepulangnya dari sana, kami menumpang kendaraan umum yang terlihat sesak. Ibu, dengan memangku saya, duduk di samping seorang bapak. Sebetulnya masih ada space untuk bergeser. Tapi si bapak terlihat arogan tidak mau bergeser, menjadikan ibu kesulitan duduk nyaman. Saya yang sedikit penat, terlihat pusing. Si bapak tersebut berkomentar dengan ketus(dalam bahasa sunda kasar-saya terjemahkan) “Makanya, bu, kalo anaknya suka mabuk jangan dibawa bepergian” Ibu saya tersinggung tak terima anaknya dikatakan suka mabuk perjalanan. Ibu langsung menjawab, “Eh, pak, anak saya ini dari usia 6 bulan sudah sering saya ajak bepergian dan tak pernah sekalipun mabuk perjalanan. Saya sering bawa dia ke Bogor atau Bandung”. Si bapak tersebut nampak meragukan jawaban ibu. “Emang ibu suka bepergian? Ngapain ?”, tanyanya sinis. Ibu makin tersinggung, “Ya iya lah, pak. Saya bawa anak ini nengok kakak-kakaknya yang sedang kuliah. Barusan abis nengok kakaknya yang ketiga, kuliah di Ekonomi. Beberapa waktu lalu ikut ke wisuda kakak keduanya di IPB. Kalo yang sulung, di IKIP. Yang sudah lulus langsung pada kerja. Ada yang jadi guru SMA, yang satu lagi lgs jadi dosen, lulusnya juga pada cumlaude…” papar ibu dengan panjang lebar. Dalam hitungan detik, situasi langsung berubah. Dengan bahasa sunda halus, si bapak berkata (dengan senyum manis-tidak ketus lagi) “Silakan, bu, agak geser…” dan si bapak bergeser…
Sejak itu, ibu selalu mewanti2 anaknya. Janganlah kau menilai derajat seseorang dari penampilannya. Mungkin seseorang tak berlebih dalam harta, tapi berlebih dalam ilmu. Jangan meremehkan orang hanya karena terlihat tak sepadan dengan kita, pesannya..
Yah, ini semua memang membuktikan, bahwa penampilan berperan dalam menentukan status seseorang. Mungkin ini jadi bahan renungan untuk saya dan pesan lainnya dari kejadian tersebut, mungkin supaya saya lebih menjaga penampilan…hehehehe….
Ketika saya bercerita pada seorang sahabat, ia tersenyum. “Mengingatkan saya pada ibu2 yang seangkot dengan saya” katanya. Ceritanya, ibu2 tersebut penampilannya memang sangat sederhana, sama sekali tidak memperlihatkan orang berada. Ibu tersebut bermaksud membeli gorden di suatu toko. Dengan penampilan seadanya, bersendaljepit, si ibu masuk ke toko tersebut. Sayangnya, pemilik toko meremehkannya. Ketika ia memilih gorden bagus, pemilik toko berkilah, “Yang itu mahal, bu” Padahal, ibu tersebut mampu untuk membeli. Tapi ia batal membeli karena perlakuan pemilik toko yang meremehkannya, menganggap ia orang miskin yang tak mampu dan tak layak untuk mendapatkan barang bagus yang mahal itu.
Lucu, seharusnya sebagai pedagang, tak bolehlah kita memilah2 customer apalagi kita menilainya hanya dari penampilan saja. Bisa2 justru customer yang sebenarnya berpotensi malah kabur karena tersinggung. Mungkin sudah gayanya si ibu tadi dengan pakaian sederhananya. Atau seperti saya yang lalai tidak mengganti baju yang lengannya sedikit robek karena tersangkut saat mau pergi. Tapi itu kan tidak bisa dijadikan patokan status dan kemampuan kami untuk berbelanja…
Tentang menilai orang dari penampilannya, mengingatkan saya pada cerita ibu bertahun lampau. Kami memang keluarga sederhana. Penampilan ibu juga sederhana. Tapi orangtua saya punya visi yang baik tentang anaknya. Sesusah apapun, pendidikan anak nomor satu. Saat itu, tahun 80an, ibu membawa saya yang masih kecil menengok kakak yang sedang kuliah di Bandung (kami tinggal di kota kecil, luar Bandung). Sepulangnya dari sana, kami menumpang kendaraan umum yang terlihat sesak. Ibu, dengan memangku saya, duduk di samping seorang bapak. Sebetulnya masih ada space untuk bergeser. Tapi si bapak terlihat arogan tidak mau bergeser, menjadikan ibu kesulitan duduk nyaman. Saya yang sedikit penat, terlihat pusing. Si bapak tersebut berkomentar dengan ketus(dalam bahasa sunda kasar-saya terjemahkan) “Makanya, bu, kalo anaknya suka mabuk jangan dibawa bepergian” Ibu saya tersinggung tak terima anaknya dikatakan suka mabuk perjalanan. Ibu langsung menjawab, “Eh, pak, anak saya ini dari usia 6 bulan sudah sering saya ajak bepergian dan tak pernah sekalipun mabuk perjalanan. Saya sering bawa dia ke Bogor atau Bandung”. Si bapak tersebut nampak meragukan jawaban ibu. “Emang ibu suka bepergian? Ngapain ?”, tanyanya sinis. Ibu makin tersinggung, “Ya iya lah, pak. Saya bawa anak ini nengok kakak-kakaknya yang sedang kuliah. Barusan abis nengok kakaknya yang ketiga, kuliah di Ekonomi. Beberapa waktu lalu ikut ke wisuda kakak keduanya di IPB. Kalo yang sulung, di IKIP. Yang sudah lulus langsung pada kerja. Ada yang jadi guru SMA, yang satu lagi lgs jadi dosen, lulusnya juga pada cumlaude…” papar ibu dengan panjang lebar. Dalam hitungan detik, situasi langsung berubah. Dengan bahasa sunda halus, si bapak berkata (dengan senyum manis-tidak ketus lagi) “Silakan, bu, agak geser…” dan si bapak bergeser…
Sejak itu, ibu selalu mewanti2 anaknya. Janganlah kau menilai derajat seseorang dari penampilannya. Mungkin seseorang tak berlebih dalam harta, tapi berlebih dalam ilmu. Jangan meremehkan orang hanya karena terlihat tak sepadan dengan kita, pesannya..
Yah, ini semua memang membuktikan, bahwa penampilan berperan dalam menentukan status seseorang. Mungkin ini jadi bahan renungan untuk saya dan pesan lainnya dari kejadian tersebut, mungkin supaya saya lebih menjaga penampilan…hehehehe….
Selasa, 06 Juli 2010
Starting point
Sekarang mungkin saatnya untuk memulai kembali. Setelah sekian lama mengendap dalam tempurung, mungkin ini saatnya untuk memulai langkah baru.
First..Mulai mengasah otak kembali (berhubung mulai terkena short memory amnesia..hihihi..)
2nd ..Memberanikan diri untuk membuka diri
3rd ..Mencari solusi dari suatu masalah, tidak hanya mencari penyebabnya apalagi jika hanya mencari kambing hitam
4th ..Manage waktu, reschedule..
5th ..Hayo memulai !!!!
First..Mulai mengasah otak kembali (berhubung mulai terkena short memory amnesia..hihihi..)
2nd ..Memberanikan diri untuk membuka diri
3rd ..Mencari solusi dari suatu masalah, tidak hanya mencari penyebabnya apalagi jika hanya mencari kambing hitam
4th ..Manage waktu, reschedule..
5th ..Hayo memulai !!!!
Langganan:
Postingan (Atom)