Tampilkan postingan dengan label it's heart and soul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label it's heart and soul. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 April 2012
Aku harus berhenti mencintaimu.....
“Kenapa ?”
Aku masih membisu.
“Kenapa harus kamu ?”
Dan aku semakin kesulitan untuk menjawab.
“Kenapa harus saat ini ?”
Aku benar-benar kesulitan untuk menjawab. Diam. Dan aku tahu itu bukan jawaban yang kamu inginkan.
Irrasional. Mungkin itu yang akan kamu katakan saat aku memberikan jawaban yang sebenarnya. Alasan yang dibuat-buat. Mungkin itu komentar lain yang akan keluar darimu. Hingga kemudian kamu akan kembali bertanya, kenapa ?
“Apakah kamu tidak mencintaiku lagi ?” kamu menatapku tajam. Matamu seolah mencari kejujuran yang tersembunyi di balik mataku. Meminta kepastian.
Ya Tuhan, sungguh, aku sangat mencintaimu. Semua orang tahu itu. Semua tahu betapa menggebunya setiap aku bercerita tentangmu. Mereka tahu, betapa berserinya wajahku saat mengingat dirimu. Atau bahkan saat aku mendengar namamu. Mereka tahu, aku sangat mencintaimu. Namun aku harus berhenti. Cintaku terlalu…sangat terlalu… Karena itu, aku harus berhenti mencintaimu, mengganti dengan rasa sayang yang tak kan lekang sepanjang hayat… Aku mencintai & menyayangimu….
Minggu, 10 April 2011
Hujan di Pertengahan Malam
Dan hujan turun di pertengahan malam.
Subhanallah, suara rintiknya beradu dengan indahnya kesunyian malam. Suasananya berpadu dengan lelah dan penatnya setiap insani yang telah seharian menjalani hari dengan berbagai aktivitas. Teralun, terbuai, terninabobokan. Dan bioritme tubuh telah menyeret mereka ke alam bawah sadar, untuk sekedar memulihkan kondisi badan.
Subhanallah, insan yang terbangun di tengah malam masih dapat menikmati keindahannya. Ditemani secangkir minuman hangat, terjaga untuk berbagai alasan. Pekerjaan, belajar, atau sekedar mencari hiburan di tengah malam. Berusaha bersinkronisasi dengan hujan. Menciptakan sisi sunyi yang berbeda.
Dan hujan turun di pertengahan malam.
Subhanallah,inilah bukti kekuasaan-Nya. Inilah bukti kasihsayang-Nya. Memercikkan air, membasahi bumi, menyegarkan malam, dan melepaskan bumi dari kekeringan. Subhanallah..
Dan hujan turun di pertengahan malam.
Inilah saatnya untuk bersyukur, dan mendekatkan diri pada-Nya...
Subhanallah, suara rintiknya beradu dengan indahnya kesunyian malam. Suasananya berpadu dengan lelah dan penatnya setiap insani yang telah seharian menjalani hari dengan berbagai aktivitas. Teralun, terbuai, terninabobokan. Dan bioritme tubuh telah menyeret mereka ke alam bawah sadar, untuk sekedar memulihkan kondisi badan.
Subhanallah, insan yang terbangun di tengah malam masih dapat menikmati keindahannya. Ditemani secangkir minuman hangat, terjaga untuk berbagai alasan. Pekerjaan, belajar, atau sekedar mencari hiburan di tengah malam. Berusaha bersinkronisasi dengan hujan. Menciptakan sisi sunyi yang berbeda.
Dan hujan turun di pertengahan malam.
Subhanallah,inilah bukti kekuasaan-Nya. Inilah bukti kasihsayang-Nya. Memercikkan air, membasahi bumi, menyegarkan malam, dan melepaskan bumi dari kekeringan. Subhanallah..
Dan hujan turun di pertengahan malam.
Inilah saatnya untuk bersyukur, dan mendekatkan diri pada-Nya...
Jumat, 08 April 2011
Melepas genggaman ilmu dan harta....
"Ilmu dan harta itu jangan digenggam saja. Harus dilepaskan" begitu ketua KK kami berpesan. Pesan singkat namun cukup dalam maknanya.
Mengapa genggaman ilmu harus dilepaskan ? Padahal kita telah susah payah mendapatkannya. Belum lagi pengorbanan yang telah dilakukan untuk memperolehnya. Rasanya tidak masuk diakal jika kita lepaskan begitu saja. Hmmm..
Ketika kita menggenggam ilmu, mungkin kita merasa sebagi orang yang berilmu, orang yang serba tahu. Padahal pada kenyataannya justru sebaliknya. Orang yang mengatakan serba tahu pada dasarnya adalah orang yang tidak tahu sama sekali. Dan ilmu yang digenggam, toch hanya satu genggaman dan isinya itu-itu saja. Dengan melepaskan genggaman ilmu kita, berarti kita telah menyebarkan ilmu ke dunia luar, menjadikannya digenggam seseorang untuk kemudian digenggam orang lain lagi, begitu seterusnya.. Amazing, spread like viruses Dari satu genggam bisa bermultiplikasi menjadi bergenggam-genggam. Lalu keuntungan kita apa ? ketika genggaman kita longgar, ada space kosong yang bisa diisi. Ini adalah saatnya untuk mengisi dengan ilmu baru. Dengan kata lain ada kesempatan untuk mengimprove ilmu kita, tidak stagnan di suatu titik, ada kesempatan untuk berkembang. Semakin kayalah kita dengan ilmu, dan semakin banyaklah kesempatan kita untuk berbagi. Subhanallah..
Lalu melepas genggaman harta ? Bagaimana bisa, harta yang diperoleh dengan cucuran keringat yang bahkan sudah hampir mengering harus dilepaskan begitu saja ? Hmm.. kita lupa, ada hak-hak orang lain dalam harta kita. Dan itu harus kita penuhi. Sama seperti halnya melonggarkan genggaman ilmu, longgarnya genggaman harta menyisakan space untuk diisi. Oleh siapa ? Oleh orang-orang yang menyimpan hak kita! :) Jadi, seperti rantai kehidupan, takkan pernah berhenti disatu tangan. Jadi jika kita menggenggam harta kita terlalu erat, berarti kita telah menahan hak orang lain, dan telah menggangu keseimbangan hidup..
Wallahualam, ini hanya penafsiran pribadi. Namun memang terasakan sendiri..
Jadi, siapkah kita melepas genggaman ilmu dan harta kita ?
Mengapa genggaman ilmu harus dilepaskan ? Padahal kita telah susah payah mendapatkannya. Belum lagi pengorbanan yang telah dilakukan untuk memperolehnya. Rasanya tidak masuk diakal jika kita lepaskan begitu saja. Hmmm..
Ketika kita menggenggam ilmu, mungkin kita merasa sebagi orang yang berilmu, orang yang serba tahu. Padahal pada kenyataannya justru sebaliknya. Orang yang mengatakan serba tahu pada dasarnya adalah orang yang tidak tahu sama sekali. Dan ilmu yang digenggam, toch hanya satu genggaman dan isinya itu-itu saja. Dengan melepaskan genggaman ilmu kita, berarti kita telah menyebarkan ilmu ke dunia luar, menjadikannya digenggam seseorang untuk kemudian digenggam orang lain lagi, begitu seterusnya.. Amazing, spread like viruses Dari satu genggam bisa bermultiplikasi menjadi bergenggam-genggam. Lalu keuntungan kita apa ? ketika genggaman kita longgar, ada space kosong yang bisa diisi. Ini adalah saatnya untuk mengisi dengan ilmu baru. Dengan kata lain ada kesempatan untuk mengimprove ilmu kita, tidak stagnan di suatu titik, ada kesempatan untuk berkembang. Semakin kayalah kita dengan ilmu, dan semakin banyaklah kesempatan kita untuk berbagi. Subhanallah..
Lalu melepas genggaman harta ? Bagaimana bisa, harta yang diperoleh dengan cucuran keringat yang bahkan sudah hampir mengering harus dilepaskan begitu saja ? Hmm.. kita lupa, ada hak-hak orang lain dalam harta kita. Dan itu harus kita penuhi. Sama seperti halnya melonggarkan genggaman ilmu, longgarnya genggaman harta menyisakan space untuk diisi. Oleh siapa ? Oleh orang-orang yang menyimpan hak kita! :) Jadi, seperti rantai kehidupan, takkan pernah berhenti disatu tangan. Jadi jika kita menggenggam harta kita terlalu erat, berarti kita telah menahan hak orang lain, dan telah menggangu keseimbangan hidup..
Wallahualam, ini hanya penafsiran pribadi. Namun memang terasakan sendiri..
Jadi, siapkah kita melepas genggaman ilmu dan harta kita ?
Rabu, 02 Februari 2011
Meminta imbalan pada Allah..
Pagi itu (Senin, 013111), saat membereskan isi dompet, saya baru sadar kartu ATM saya tidak ada di tempatnya. Di manakah ia ? Setelah mengubrak-abrik semua celah dan tidak pula ditemukan, saya langsung berkesimpulan bahwa kartu tersebut tertinggal. Tapi dimana ?
Saya pun mulai mengingat satu demi satu. Terakhir kali saya bersentuhan dengan kartu tersebut yaitu pada hari jumat (bayangkan, sudah 3 hari berlalu !). Kalau tak salah, terakhir kali mengeluarkannya saat hendak membayar di suatu toko buku. Eits, tapi kan saya batal membayar menggunakan kartu tersebut karena kena tambahan biaya 6% dari pembelanjaan saya. Dan saya akhirnya menguras isi dompet. Ya Ampun ! karena uang di dompet habis untuk membayar buku-buku tersebut, sepulang dari sana saya mampir ke sebuah ATM yang kebetulan berada di kantor cabang Bank tersebut. Berarti, itulah tempat terakhir kartu ATM saya berada.
Sedikitnya panik itu ada. Saya tak mungkin meninggalkan kartu ATM saya jika saja ATM tersebut sudah keluar dari mesinnya. Kemungkinan terbesar adalah kartu itu tertinggal di dalam mesin dan option di layar pasti “Transaksi lain ? (ya/ tidak)”. Dan karena kelalaian saya, setelah uang keluar, saya tidak memilih di option tersebut serta langsung keluar dari gerai ATM. Deg-degan.. karena orang yang memasuki gerai ATM setelah saya dan menemukan kondisi tersebut dapat dengan mudah melakukan transaksi apapun dengan account saya. Meski uang yang ada di rekening saya tidaklah besar, tapi jika itu sampai hilang…masya Allah..
Meski berusaha tenang, tapi hati tetap khawatir. Dengan diantar suami, saya berangkat ke kantor cabang tempat gerai ATM tersebut. Mudah-mudahan ada orang yang menemukan kartu saya lalu mengembalikan lewat SATPAM bank yang sedang berjaga. Di sepanjang perjalanan saya meminta bantuan pada Allah. Dan di sini kurang ajarnya saya..
Saya teringat kurang lebih sebulan lalu, di suatu gerai ATM. Ketika saya hendak memasukkan kartu, di layar tertera option “Transaksi lain ? (ya/ tidak)”. Tanpa pikir panjang, saya langsung pilih “tidak” dan mengeluarkan kartu tersebut. Langsung saya keluar, berharap pemilik kartu masih ada di luar. Celingak-celinguk mencari orang. Dengan bantuan teman, akhirnya orang tersebut dapat dipanggil dan kartu ATMnya langsung diberikan. “terimakasih, mbak..” katanya berbinar. Di perjalanan pulang. Saya dan teman sempat bercanda.. “Kok gak kepikiran ya buat nguras isi rekeningnya? Padahal dengan satu pijitan tombol..abrakadabra..” Kami hanya tertawa membayangkan apa yang terjadi jika kami tak jujur.
Nah, karena mengingat itu, dalam doa saya terselip permohonan “Ya Allah, kemarin hamba telah berbuat jujur dengan mengembalikan kartu ATM seseorang yang teledor. Masa iya sih, sekarang saat saya teledor, tidak ada orang jujur untuk saya ?” Astagfirullah. Dengan kata lain, saat itu saya telah langsung ‘imbalan’ atas perilaku yang memang sudah seharusnya saya lakukan.
Tapi Allah memang tak pernah ingkar janji. Sekecil apapun perbuatan baik hambaNya pasti akan mendapat imbalan baik secara langsung di dunia, maupun kelak di akhirat. Ketika saya datang ke kantor cabang bank tersebut, ternyata memang benar kartu ATM yang tertinggal di dalam ATM tersebut telah dikembalikan orang yang menemukannya. Dan beliau tidak sedikitpun mengutak-atik rekening saya ! Alhamdulillah… Maafkan hamba yang telah meminta imbalan langsung atas perbuatan hamba,ya Rabb.. Namun Engkau Maha Tahu dan mengabulkan permintaan hambaNya..
Singkat kata, saya bisa keluar dari Bank dengan wajah sumringah. Meski saya tidak tahu siapa yang menemukannya, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak.. Percayalah, jika saya tak mampu membalas kebaikan anda, Allah pasti membalasnya dengan bentuk yang tak terduga… Aamiin.
Saya pun mulai mengingat satu demi satu. Terakhir kali saya bersentuhan dengan kartu tersebut yaitu pada hari jumat (bayangkan, sudah 3 hari berlalu !). Kalau tak salah, terakhir kali mengeluarkannya saat hendak membayar di suatu toko buku. Eits, tapi kan saya batal membayar menggunakan kartu tersebut karena kena tambahan biaya 6% dari pembelanjaan saya. Dan saya akhirnya menguras isi dompet. Ya Ampun ! karena uang di dompet habis untuk membayar buku-buku tersebut, sepulang dari sana saya mampir ke sebuah ATM yang kebetulan berada di kantor cabang Bank tersebut. Berarti, itulah tempat terakhir kartu ATM saya berada.
Sedikitnya panik itu ada. Saya tak mungkin meninggalkan kartu ATM saya jika saja ATM tersebut sudah keluar dari mesinnya. Kemungkinan terbesar adalah kartu itu tertinggal di dalam mesin dan option di layar pasti “Transaksi lain ? (ya/ tidak)”. Dan karena kelalaian saya, setelah uang keluar, saya tidak memilih di option tersebut serta langsung keluar dari gerai ATM. Deg-degan.. karena orang yang memasuki gerai ATM setelah saya dan menemukan kondisi tersebut dapat dengan mudah melakukan transaksi apapun dengan account saya. Meski uang yang ada di rekening saya tidaklah besar, tapi jika itu sampai hilang…masya Allah..
Meski berusaha tenang, tapi hati tetap khawatir. Dengan diantar suami, saya berangkat ke kantor cabang tempat gerai ATM tersebut. Mudah-mudahan ada orang yang menemukan kartu saya lalu mengembalikan lewat SATPAM bank yang sedang berjaga. Di sepanjang perjalanan saya meminta bantuan pada Allah. Dan di sini kurang ajarnya saya..
Saya teringat kurang lebih sebulan lalu, di suatu gerai ATM. Ketika saya hendak memasukkan kartu, di layar tertera option “Transaksi lain ? (ya/ tidak)”. Tanpa pikir panjang, saya langsung pilih “tidak” dan mengeluarkan kartu tersebut. Langsung saya keluar, berharap pemilik kartu masih ada di luar. Celingak-celinguk mencari orang. Dengan bantuan teman, akhirnya orang tersebut dapat dipanggil dan kartu ATMnya langsung diberikan. “terimakasih, mbak..” katanya berbinar. Di perjalanan pulang. Saya dan teman sempat bercanda.. “Kok gak kepikiran ya buat nguras isi rekeningnya? Padahal dengan satu pijitan tombol..abrakadabra..” Kami hanya tertawa membayangkan apa yang terjadi jika kami tak jujur.
Nah, karena mengingat itu, dalam doa saya terselip permohonan “Ya Allah, kemarin hamba telah berbuat jujur dengan mengembalikan kartu ATM seseorang yang teledor. Masa iya sih, sekarang saat saya teledor, tidak ada orang jujur untuk saya ?” Astagfirullah. Dengan kata lain, saat itu saya telah langsung ‘imbalan’ atas perilaku yang memang sudah seharusnya saya lakukan.
Tapi Allah memang tak pernah ingkar janji. Sekecil apapun perbuatan baik hambaNya pasti akan mendapat imbalan baik secara langsung di dunia, maupun kelak di akhirat. Ketika saya datang ke kantor cabang bank tersebut, ternyata memang benar kartu ATM yang tertinggal di dalam ATM tersebut telah dikembalikan orang yang menemukannya. Dan beliau tidak sedikitpun mengutak-atik rekening saya ! Alhamdulillah… Maafkan hamba yang telah meminta imbalan langsung atas perbuatan hamba,ya Rabb.. Namun Engkau Maha Tahu dan mengabulkan permintaan hambaNya..
Singkat kata, saya bisa keluar dari Bank dengan wajah sumringah. Meski saya tidak tahu siapa yang menemukannya, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak.. Percayalah, jika saya tak mampu membalas kebaikan anda, Allah pasti membalasnya dengan bentuk yang tak terduga… Aamiin.
Sabtu, 24 Juli 2010
Need shoulder to cry on..
Terkadang, emosi itu perlu ditumpahkan. Bahkan emosi yang tanpa sadar kita pendam dan tutupi. Bentuk luapan emosi paling mudah adalah menangis. Menangis kadang baik sebagai salah satu cara meringankan beban. Asalkan setelah itu tidak lantas patah arang, namun jadi lebih kuat untuk bangkit. Jangan takut dibilang cengeng, menangis adalah bukti bahwa hati kita masih peka. Sentimentil itu masih dibutuhkan asal jangan terlalu.
Siang itu, saya baru saja selesai bercurah hati dengan seorang sahabat lama. Mencoba saling menguatkan diri. Mencoba menghibur dirinya yang baru saja kehilangan calon bayinya. Meski hanya bisa berkomunikasi lewat dunia maya, kami berusaha saling mengisi relung kosong hati dengan semangat untuk melanjutkan kehidupan.
Namun tak berapa lama, suami saya menelpon, memberi tahu jadwal operasi putra pertama kami, Rauffala(2,5 thn), sudah dipastikan esok malam. Blasss...di tengah suasana laboratorium yang sepi, hanya suara pump air untuk kondensor dua alat destilasi minyak atsiri dan rotavapor yang menyala, ruang hati saya seperti pasar malam. Kacau, bising dengan bisikan penuh kekhawatiran. Bagaimana esok malam ? Apakah operasinya akan berjalan lancar ? Bisakah Aufal melewatinya ? Lalu kenapa semua harus berlangsung di saat riset saya baru dimulai ? Haruskah saya hentikan lebih awal ? Dan beragam kekhawatiran lain berkecamuk di benak saya. Terutama masalah kondisi Aufal saat dan setelah operasi. Dan emosi itu memuncak...
Saya tak mengerti. Proses operasi ini telah dipersiapkan sebulan sebelumnya. Ketika orang-orang di sekeliling kami meragukan keputusan tersebut dan berusaha menyodorkan alternatif lain, tapi kami, terutama saya, menolaknya keras dan tetap kukuh pada keputusan kami untuk melakukan tindakan operasi. Ketika orang lain merasa miris membayangkan batita kami harus berada di meja operasi, saya meyakinkan mereka bahwa operasinya hanya operasi sedang, bahkan tak perlu rawat inap. So simple, percaya diri saya yakinkan it’s gonna be ok...
Tapi ketika kepastian operasi itu datang, ternyata saya tak bisa lagi memendam rasa khawatir. Sedih, ragu, dan selaksa emosi negatif menyeruak. Mengumpul di sudut mata. I need shoulder to cry on !
Segera saja saya menghampiri rekan sekaligus sahabat-sahabat saya yang sedang bekerja di lab lain. Pada awalnya saya hanya ingin menitipkan bahan riset saya karena saya tak bisa melanjutkan riset esok hari dan hari-hari berikutnya sampai Aufal pulih benar. Sahabat saya kaget juga mendengar rencana operasi esok hari. Saya mencoba tegar menceritakan kronologisnya. Tapi, tetap tak bisa dipungkiri, emosi saya memuncak mengumpul di pelupuk mata. Dan kemudian.. “Teteh, saya mau nangis…” Segera saja ia memeluk saya erat. Menyediakan bahunya untuk tempat menangis. Entah kenapa, tanpa sepatah kata pun terucap, rasanya setengah beban emosi yang pada awalnya terasa mulai menghilang seiring air mata yang keluar. Saya tak pernah menangis ketika bercerita soal rencana operasi itu, saya tegar ketika dengan meyakinkan orang disekeliling saya dengan keputusan saya. Tapi ternyata, air mata itu muncul juga.
Setelah saya bisa menegakkan kepala, sahabat saya yang lain datang menghapiri. Melihat saya berkaca-kaca, “Lia jangan menangis… Kamu harus kuat !!!” Blazz… pelukan dan rangkaian kata itu berubah mejadi bulir energi positif yang mulai menggeser segenap emosi negative di hati. Alhamdulillah… saya bisa menegakkan kepala kembali dan dengan tegas berkata “ Saya harus kuat “
Berkat doa dan dukungan sahabat, esok harinya saya bisa melewati hari tanpa beban dan kekhawatiran berlebih. Dengan tegar mulai menyiapkan diri Aufal. Pun begitu Aufal. Rasanya, operasi ini bisa berjalan tanpa rasa cemas. Kami kembalikan semua pada kehendak-Nya. Dan alhamdulillah, esok hari setelah operasi, Aufal bisa bermain dengan cerianya.
Begitulah, menangis adalah hal wajar. Dan kita selalu membutuhkan orang lain untuk jadi penopang kita di saat kita limbung, untuk jadi pendorong kita di saat kita lelah berjalan, untuk jadi pegangan kita di saat kita akan jatuh, agar kita tidak terus terpuruk. Mereka adalah sahabat... Thanks for ur shoulder...
Siang itu, saya baru saja selesai bercurah hati dengan seorang sahabat lama. Mencoba saling menguatkan diri. Mencoba menghibur dirinya yang baru saja kehilangan calon bayinya. Meski hanya bisa berkomunikasi lewat dunia maya, kami berusaha saling mengisi relung kosong hati dengan semangat untuk melanjutkan kehidupan.
Namun tak berapa lama, suami saya menelpon, memberi tahu jadwal operasi putra pertama kami, Rauffala(2,5 thn), sudah dipastikan esok malam. Blasss...di tengah suasana laboratorium yang sepi, hanya suara pump air untuk kondensor dua alat destilasi minyak atsiri dan rotavapor yang menyala, ruang hati saya seperti pasar malam. Kacau, bising dengan bisikan penuh kekhawatiran. Bagaimana esok malam ? Apakah operasinya akan berjalan lancar ? Bisakah Aufal melewatinya ? Lalu kenapa semua harus berlangsung di saat riset saya baru dimulai ? Haruskah saya hentikan lebih awal ? Dan beragam kekhawatiran lain berkecamuk di benak saya. Terutama masalah kondisi Aufal saat dan setelah operasi. Dan emosi itu memuncak...
Saya tak mengerti. Proses operasi ini telah dipersiapkan sebulan sebelumnya. Ketika orang-orang di sekeliling kami meragukan keputusan tersebut dan berusaha menyodorkan alternatif lain, tapi kami, terutama saya, menolaknya keras dan tetap kukuh pada keputusan kami untuk melakukan tindakan operasi. Ketika orang lain merasa miris membayangkan batita kami harus berada di meja operasi, saya meyakinkan mereka bahwa operasinya hanya operasi sedang, bahkan tak perlu rawat inap. So simple, percaya diri saya yakinkan it’s gonna be ok...
Tapi ketika kepastian operasi itu datang, ternyata saya tak bisa lagi memendam rasa khawatir. Sedih, ragu, dan selaksa emosi negatif menyeruak. Mengumpul di sudut mata. I need shoulder to cry on !
Segera saja saya menghampiri rekan sekaligus sahabat-sahabat saya yang sedang bekerja di lab lain. Pada awalnya saya hanya ingin menitipkan bahan riset saya karena saya tak bisa melanjutkan riset esok hari dan hari-hari berikutnya sampai Aufal pulih benar. Sahabat saya kaget juga mendengar rencana operasi esok hari. Saya mencoba tegar menceritakan kronologisnya. Tapi, tetap tak bisa dipungkiri, emosi saya memuncak mengumpul di pelupuk mata. Dan kemudian.. “Teteh, saya mau nangis…” Segera saja ia memeluk saya erat. Menyediakan bahunya untuk tempat menangis. Entah kenapa, tanpa sepatah kata pun terucap, rasanya setengah beban emosi yang pada awalnya terasa mulai menghilang seiring air mata yang keluar. Saya tak pernah menangis ketika bercerita soal rencana operasi itu, saya tegar ketika dengan meyakinkan orang disekeliling saya dengan keputusan saya. Tapi ternyata, air mata itu muncul juga.
Setelah saya bisa menegakkan kepala, sahabat saya yang lain datang menghapiri. Melihat saya berkaca-kaca, “Lia jangan menangis… Kamu harus kuat !!!” Blazz… pelukan dan rangkaian kata itu berubah mejadi bulir energi positif yang mulai menggeser segenap emosi negative di hati. Alhamdulillah… saya bisa menegakkan kepala kembali dan dengan tegas berkata “ Saya harus kuat “
Berkat doa dan dukungan sahabat, esok harinya saya bisa melewati hari tanpa beban dan kekhawatiran berlebih. Dengan tegar mulai menyiapkan diri Aufal. Pun begitu Aufal. Rasanya, operasi ini bisa berjalan tanpa rasa cemas. Kami kembalikan semua pada kehendak-Nya. Dan alhamdulillah, esok hari setelah operasi, Aufal bisa bermain dengan cerianya.
Begitulah, menangis adalah hal wajar. Dan kita selalu membutuhkan orang lain untuk jadi penopang kita di saat kita limbung, untuk jadi pendorong kita di saat kita lelah berjalan, untuk jadi pegangan kita di saat kita akan jatuh, agar kita tidak terus terpuruk. Mereka adalah sahabat... Thanks for ur shoulder...
Kamis, 08 Juli 2010
Menjadi mengerti
Hidup itu tak selalu seperti apa yang kita mau. Kadang lebih banyak melenceng dari keinginan dibanding berjalan sesuai dengan harapan. Manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Dan memiliki cerita hidup sendiri-sendiri. Itu yang membuat mereka berbada satu sama lain. Kehidupan yang mereka jalani telah membentuk karakter seperti agar-agar yang masuk ke dalam cetakannya.
Berbeda. Untuk itu Tuhan mempertemukan satu manusia dengan manusia lainnya. Agar mereka tahu adanya perbedaan. Agar mereka tahu bagaimana harusnya menghadapi perbedaan tersebut. Agar mereka tahu, ada hak dan ada kewajiban yang harus dilakukan di tengah perbedaan tersebut. Dan di situlah ujiannya. Ujian untuk jadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang mengerti manusia yang lain.
Untuk menjadi manusia penuh pengertian, butuh waktu dan latihan berkepanjangan. Sangat melelahkan. Hingga kadang sepertinya tak satupun bisa melewatinya. Apalagi bila kita tak mampu membuka diri dan mencoba untuk menjadi bagian dari hidup oranglain. Tidak hanya hidup sendiri, dengan aturan sendiri, dengan keinginan sendiri, dengan kehendak sendiri yang kadang menyakitkan oranglain. Sadarilah, kita bukan manusia utuh tanpa bagian manusia yang lain.
Menjadi mengerti, itu langkah sulit yang harus kita jalani. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk mengerti….
(hanya mengingatkan diri sendiri……….)
Berbeda. Untuk itu Tuhan mempertemukan satu manusia dengan manusia lainnya. Agar mereka tahu adanya perbedaan. Agar mereka tahu bagaimana harusnya menghadapi perbedaan tersebut. Agar mereka tahu, ada hak dan ada kewajiban yang harus dilakukan di tengah perbedaan tersebut. Dan di situlah ujiannya. Ujian untuk jadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang mengerti manusia yang lain.
Untuk menjadi manusia penuh pengertian, butuh waktu dan latihan berkepanjangan. Sangat melelahkan. Hingga kadang sepertinya tak satupun bisa melewatinya. Apalagi bila kita tak mampu membuka diri dan mencoba untuk menjadi bagian dari hidup oranglain. Tidak hanya hidup sendiri, dengan aturan sendiri, dengan keinginan sendiri, dengan kehendak sendiri yang kadang menyakitkan oranglain. Sadarilah, kita bukan manusia utuh tanpa bagian manusia yang lain.
Menjadi mengerti, itu langkah sulit yang harus kita jalani. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk mengerti….
(hanya mengingatkan diri sendiri……….)
Langganan:
Postingan (Atom)