Tampilkan postingan dengan label share knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label share knowledge. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

Apa itu Karsinoma ?

Penyakit kanker kulit dewasa ini cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan Amerika, Australia dan Inggris. Berdasarkan beberapa penelitian, mereka orang-orang kulit putih yang lebih banyak menderita jenis kanker kulit ini. Hal tersebut diprediksikan sebagai akibat seringnya mereka terkena (banyak terpajan) cahaya matahari. Di Indonesia penderita kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan ke-3 negara tersebut, namun demikian kanker kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal bagi penderita.

Penyakit Kanker Kulit adalah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ada tiga jenis kanker kulit yang umumnya sering diderita manusia, diantaranya adalah karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM).

# Karsinoma Sel Basal (KSB)

Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang paling banyak diderita. Kanker jenis ini tidak mengalami penyebaran (metastasis) kebagian tubuh lainnya, tetapi sel kanker dapat berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit sekitarnya. Warna kulit yang terang dan sering terkena pijaran cahaya matahari keduanya diduga sebagai penyebab Karsinoma Sel Basal. Faktor lain yang juga dapat menjadi penyebab jenis kanker ini adalah system imun tubuh yang lemah (baik dampak penyakit lain atau pengobatan), luka bakar, sinar X-ray.

1. Tanda dan Gejala
Bagian tubuh yang terserang kanker sel basal biasanya wajah, leher dan kulit kepala. Adapun tanda-tanda penyakit kanker berjenis ini adalah benjolan yang agak berkilat, kemerahan dengan pinggir meninggi yang berwarna agak kehitaman, kelainan seperti jaringan parut dan lecet/lika yang tidak sembuh-sembuh.

2. Diagnosa Jenis kanker
Metode tunggal untuk memastikan penyakit kanker sel basal yaitu Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan histopatologis dengan mengambil sample bagian kulit yang di anggap sebagai jaringan kanker (biopsy) untuk diteliti dibawah mikroskop.

3. Therapy dan Pengobatan
Apabila diagnosa telah ditegakkan secara jelas bahwa penderita mengalami kanker kulit berjenis sel basal, maka tindakan yang dilakukan umumnya adalah pembedahan atau pengangkatan jaringan kulit (kanker) secara komplit, atau dapat pula dengan tindakan penyinaran. Metode lainnya yang juga kerap dilakukan adalah bedah beku, bedah listrik, laser, fotodinamik serta dengan obat-obatan baik yang dioleskan maupun disuntikkan (kemoterapi).

# Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)

Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang lebih banyak diderita pria terutama kaum lanjut usia (lansia). Ini adalah jenis kanker kulit dimana terjadi keganasan sel keratinosit epidermis, merupakan kanker kulit ke dua tersering. Penyakit kanker kulit KSS ini dapat menyebar kebagian tubuh yang lain, umumnya diderita mereka yang berada diwilayah tropik.

Seperti halnya penyakit KSB, kanker kulit jenis ini juga diduga akibat sinar matahari (dominannya), Imun tubuh yang lemah, virus, bahan-bahan kimia dan jaringan parut juga dapat menimbulkan penyekit ini. Adapun tanda dan gejalanya ialah mempunyai kelainan berupa benjolan-benjolan atau luka yang tidak sembuh-sembuh. Diagnosa ditegakkan dengan metode yang sama pada KSB, begitupun tindakan therapy dan pengobatan cenderung sama dengan kanker sel basal.

# Melanoma Maligna (MM)

Ini adalah jenis penyakit kanker kulit yang paling ganas dan berpotensi mematikan. Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun. Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang baru muncul.

1. Tanda dan Gejala
Informasi ini sangat penting sekali bagi meraka yang memiliki tahi lalat yang kemudian mengalami perubahan baik warna, ukuran maupun bentuknya, Tahi lalat terkadang terasa gatal dan bila digaruk mengeluarkan darah. Sel kanker ini tumbuh dari melanosit, yaitu sel kulit yang berfungsi menghasilkan zat warna melanin.

Kanker ini dicirikan dengan ABCD, yaitu A= Asimetrik, bentuknya tak beraturan. B= Border atau pinggirannya juga tidak rata. C= Color atau warnanya yang bervariasi dari satu area ke area lainnya. Bisa kecoklatan sampai hitam. Bahkan dalam kasus tertentu ditemukan berwarna putih, merah dan biru. D= Diameternya lebih besar dari 6 mm.

2. Diagnosa Melanoma Maligna
Penegakan diagnosa pada kasus penyakit kanker kulit jenis ini sama halnya dengan kedua jenis kanker kulit di atas (KSB dan KSS), yaitu dilakukannya tindakan biopsy untuk pemeriksaan dibawah mikroskop.

3. Therapy dan Pengobatan
Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa. Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker jenis ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telah diketahui terjadi penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan di sekitarnya. Jika sel kanker ditemukan menyebar ke kelenjar limfa, maka mau tidak mau kelenjarnya juga diangkat.
(mengutip dari web tetangga..)

Senin, 12 Juli 2010

Zingiber cassumunar ?


Di Indonesia, Z. cassumunar dikenal dengan berbagai nama, seperti
Panglai (Sunda), bengle (Jawa), pandhiyang (Madura); mugle, bengle, bungle, baglai, baniai, banglai, bunglai; Bangle, kunit bolai, kunyit bolai (Sumatera), banggele (Bali); Bale, panini, manglai, manguiai, bangerei, wangelei, walegai,; kukuniran, kukundiren, unin makei, unin pakei, bangle, bongle.
Z. cassumunar digolongkan sebagai rempah-rempah yang memiliki khasiat obat. Kandungan kimia rimpang : minyak atsiri (sineol, pinen), damar, pati, tanin . Z. cassumunar digunakan sebagai penurun panas (anti piretik), peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak (expectorant), pembersih darah, pencahar (laksan), obat cacing (vermifuge) (1).

Selain dipergunakan sebagai rempah, Z. cassumunar juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan. Penyakit yang dipercaya dapat diobati diantaranya adalah : demam, sakit kepala, batuk, perut nyeri, masuk angin, sembelit, sakit kuning, cacingan, reumatik. Ramuan jamu digunakan untuk kegemukan dan mengecilkan perut setelah melahirkan.
Bagian yang dipakai adalah rimpang dan daun. Rimpang digunakan untuk :
- Demam, sakit kepala.
- Batuk berdahak.
- Perut nyeri, masuk angin.
- Sembelit.
- Sakit kuning.
- Cacingan.
- Rheumatism.
- Ramuan jamu pada wanita setelah melahirkan.
- Mengecilkan perut setelah melahirkan.
- Kegemukan.
Sedangkan daun dipergunakan untuk mengatasi :
- Tidak napsu makan.
- Perut terasa penuh.

Senyawa aktif yang dimiliki Z. cassumunar diantaranya adalah Cassumunin A-C (2, 3, 4) dan Cassumunarin A-C (5), senyawa curcuminoid kompleks yang memiliki aktivitas antioksidan; senyawa-senyawa phenylbutanoid (seperti Phlain I-IV) yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan (6); phenylbutenoid yang memiliki potensi antikanker dan antiinflamasi (7,8,9); minyak atsiri yang berpotensi antimikroba (10) dan fungisida (11).

Zingiber cassumunar Roxb. mengandung 0,9 - 2,8% minyak atsiri (13,15,17) dengan komponen terbanyak triquinacene,1,4-bis (methoxy) (26.47%), (Z)-ocimene (21.97%), terpinen-4-ol (18.45%), γ-terpinene (3.86%), β-phellandrene (3.49%) and cis-sabinenehydrate (3.00%) (17).

Dengan komponen-komponen kimia tersebut, Z.cassumunar berpotensi dalam pengembangan obat.

Rabu, 07 Juli 2010

Polisakarida Jamur (2)

Jamur yang tersebar luas dan sebagian besar belum dimanfaatkan dapat menjadi sumber produk farmasi baru yang kuat. Seperti yang telah diketahui, di beberapa Negara Asia, penggunaan jamur sebagai obat tradisional sudah tak asing lagi.
Secara khusus, dan yang paling penting untuk obat modern, mereka mewakili sumber yang tidak terbatas dari polisakarida dengan aktivitas antitumor dan immunostimulating. Dari data in vitro, ekstrak jamur crimini, maitake, oyster and shiitake yang mengandung polisakarida mengatur produksi makrofag dan T-cell dari sitokin yang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas anti tumor 3).
Sebagian besar jamur Basidiomycetes mengandung polisakarida aktif secara biologis dalam tubuh buah, kultur miselium, dan kultur kaldu. Polisakarida tersebut memiliki komposisi kimia yang berbeda, umumnya merupakan β-glucans; memiliki rantai utama dengan ikatan β-(1 → 3) dan tambahan cabang β-(1→6) untuk aktivitas antitumor mereka. β-Glucans berbobot molekul tinggi tampaknya lebih efektif daripada bobot molekul rendah. Sebagian besar bukti klinis untuk aktivitas antitumor berasal dari polisakarida komersial lentinan, PSK (krestin), dan schizophyllan, tetapi polisakarida dari beberapa spesies jamur menjanjikan lain juga menunjukkan hasil yang baik. Aktivitas ini terutama bermanfaat dalam klinik jika digunakan bersama dengan kemoterapi 4).
Polisakarida jamur mencegah onkogenesis, menunjukkan aktivitas antitumor langsung terhadap berbagai allogeneic dan syngeneic tumor, dan mencegah tumor metastasis. Polisakarida dari jamur tidak menyerang sel kanker secara langsung, tapi menghasilkan efek antitumor dengan mengaktifkan respon imun yang berbeda dalam host. Aktivitas antitumor polisakarida memerlukan komponen T-sel utuh dan aktivitasnya dimediasi melalui mekanisme system imun thymus-dependent 4).
β-(1-3)-glucans merupakan molekul yang memperlihatkan aktivitas biologis yang luas termasuk aktivitas antitumor. Beberapa penelitian memperlihatkan kemampuannya terhadap system imun humoral dan selular non spesifik aktif. Molekul ini meningkatkan aktivitas antimicrobial dari sel mononuclear dan neutrophils dan menambah aktivitas fungsional dari makrofag.
β-glucans teruji menghambat pertumbuhan tumor baik secara in vitro maupun in vivo. β-glucans lentinan dari Lentinus edodes, schizophyllan (sonifilan) dari Schizophyllum commune, grifolan dari Grifola frondosa, dan ekstrak dari Sclerotinia sclerotiorum, semuanya memiliki aktivitas antitumor 3).
β-(1-3)-Glucans juga menstimulasi proliferasi monosit dan makrofag dan memiliki aktivitas hematopoietic yang cukup potensial 3).
Aktivitas anti infeksi β-(1-3)-glucans telah diuji dalam animal models dari penyakit bacterial, fungal, parasitic, dan viral namun yang paling sering eksperimen dalam penyakit bacterial 3).
β-(1-3)-Glucans telah diuji dalam model pengujian terhadap infeksi Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, and Mycobacterium leprae. Pada setiap kasus, treatment dengan β-(1-3)-glucan memberikan efek yang menguntungkan dalam mereduksi mortality atau mengurangi jumlah bakteri dalam hewan terinfeksi 3).
β-(1-3)-Glucans terderivatisasi dan tak larut menstimulasi pembentukan mediator proinflammatory seperti komponen komplemen, IL-1, TNF-a, IL-2, and eicosanoids. β-(1-3)-Glucans larut diuji kemampuannya untuk mencegah bacterial sepsis 3).
Ekstrak Agaricus blazei Murill yang kaya campuran β-(1,3)-, β-(1-4)- and β-(1-6)-D-glucans menstimulasi pembentukan sitokin pro-inflamatori pada monosit dan sel endotel vena manusia sebagai respon terhadap infeksi 5).
β-glucans dari ekstrak jamur Agaricus blazei juga mencegah efek genotoksis dari benzopiren dengan cara terikat pada benzopiren atau menangkap radikal bebas selama aktivasi benzopiren tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai agen kemoprotektif melawan kerusakan DNA yang diinduksi oleh benzopiren 6).
Jamur juga kaya akan mannan. Mannan memiliki aktivitas biologis yang signifikan saat diberikan kepada mamalia. Ketika diberikan secara oral, mereka menghambat absorpsi kolesterol dan menyebabkan hipokolesterolemia. Jika diberikan dalam rute lain, mereka terikat pada protein pengikat mannose dan menyebabkan aktivasi makrofag dan pelepasan interleukin-1, menghambat replikasi virus, menstimulasi aktivitas sumsum tulang, mempercepat penyembuhan luka, dan menghambat pertumbuhan sel tumor 7).
Lentinan tersulfatasi dari L. edodes mencegah efek HIV-induced cytopathic. Protein-bound polysaccharides, PSK and PSP dari Trametes versicolor (L.: Fr.) Pila´t [syn. Coriolus versicolor (L.: Fr.) Quelet] juga memiliki efek antiviral pada HIV dan cytomegalovirus in vitro. Selain menstimulus system imun, efek lain dari kompleks polysaccharide–protein adalah aktivitas antiviral 8).
Beberapa polisakarida dan kompleks polysaccharide–protein dari jamur dapat menstimulasi system imun non spesifik dan mengerahkan aktivitas antitumor melalui stimulasi dari mekanisme pertahanan inang. Obat mengaktifkan sel-sel efektor seperti makrofag, limfosit T
dan sel NK untuk mensekresi sitokin seperti TNF-α, IFN-γ, IL-1β,
dll, yang antiproliferative dan menginduksi apoptosis dan
diferensiasi pada sel tumor 8).
Ada bukti bahwa β-D-glucans menimbulkan respons biologis dengan cara mengikat membran reseptor komplemen type 3 (Cr3, alphaMb2 integrin atau CD11b/CD18) pada sel-sel efektor imun 8)

Pustaka
1. Barros, L. et al. 2008.Chemical Composition and Biological Properties of Portuguese Wild Mushrooms: A Comprehensive Study. J. Agric. Food Chem.56, 3856–3862
2. Chan, G.C, Chan, W.K, & Sze, D. 2009. The effects of β-glucan on Human Immune and Cancer Cells. Journal of Hematology & Oncology, 2:25
3. Yu, S., Weaver, V., Martin, K., & Cantorna, M.T. 2009. The Effects of Whole Mushrooms during Inflammation. BMC Immunology, 10:12
4. Wasser, S.P. 2002. Medicinal Mushrooms as a Source of Antitumor and Immunomodulating Polysaccharides. Appl Microbiol Biotechnol. 60:258–274.
5. Bernardshaw, S., Hetland, G., Ellertsen, L.K., Tryggestad, A.M.A, & Johnson, E. 2006. An Extract of the Medicinal Mushroom Agaricus blazei Murill Differentially Stimulates Production of Pro-inflammatory Cytokines in Human Monocytes and Human Vein Endothelial Cells in vitro. Inflammation, Vol. 29, Nos. 4-6, December 2005
6. Angeli, J.P.F, Ribeiro, L.R, Bellini, M.F., Mantovani, M.S. 2009. β-Glucan Extracted from The Medicinal Mushroom Agaricus blazei Prevents the Genotoxic Efects of Benzo[a]pyrene in the Human Hepatoma Cell Line HepG2. Arch Toxicol 83:81–86
7. Tizard, I.R., Carpenter, R.H., McAnalley, B.H., & Kemp, M.C. 1989. The Biological Activities of Mannans and Related Complex Carbohydrates. Mol. Biother., vol. 1, No, 6
8. Lindequist, U., Niedermeyer, T.H.J, & Jülich, W.D. 2005. The Pharmacological Potential of Mushrooms. eCAM;2(3)

Polisakarida Jamur (1)

Kita telah mengenal jamur dalam kehidupan sehari-hari meskipun tidak sebaik tumbuhan lainnya. Hal itu disebabkan karena jamur hanya tumbuh pada waktu dan kondisi tertentu yang mendukung, dan lama hidupnya terbatas. Sebagai contoh, jamur banyak muncul pada musim hujan di kayu-kayu lapuk, serasah, maupun tumpukan jerami. Namun, jamur ini segera mati setelah musim kemarau tiba. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia telah mampu membudidayakan jamur dalam medium buatan, misalnya jamur merang, jamur tiram, dan jamur kuping.
Jumlah jamur di Bumi diperkirakan mencapai 140.000, namun mungkin hanya 10% (kira-kira 14.000 spesies) yang dikenal. Jamur merupakan kelompok eukariotik yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen.
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur bersel satu, misalnya khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu.
Tubuhnya terdiri dari komponen dasar berupa benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut :
 Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan
berprotein tinggi.
 Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu
dalam pembuatan tempe dan oncom.
 Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri
keju, roti, dan bir.
 Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
 Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.
Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut :
 Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit
rebah semai.
 Phythophthora inf'estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman
kentang.
 Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
 Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
 Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru
manusia.
 Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.
Barros et al telah melaah komposisi kimia dan property biologis dari jamur liar di Portugis (Cantharellus cibarius, Hypholoma fasciculare, Lepista nuda, Lycoperdon molle, Lycoperdon perlatum, Ramaria botrytis, Tricholoma acerbum) 1) Dari jamur yang dianalisa tersebut ternyata mengandung banyak senyawa fitokimia berguna seperti phenolics, tocopherols, ascorbic acid, and carotenoids. Gabungan dari senyawa bioaktif dan komposisi kaya nutrisi (tinggi protein dan karbohidrat, rendah lemak, namun dalam bentuk lemak tak jenuh, tidak mengandung asam lemak trans) menjadikan jamur menjadi makanan special.
Selama bertahun-tahun, jamur telah digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional di beberapa Negara Asia. Hal ini membuat riset mengenai aktivitas farmakologi dan kajian senyawa bioaktif dari jamur semakin berkembang. Dari sekian senyawa bioaktifnya, senyawa golongan polisakarida nampak menonjol sebagai senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi.
Polisakarida yang aktif tersebut sebagian besar merupakan β-Glucans.